PELAJAR : KESELAMATAN atau GAYA - GAYAAN ?


Tahun 2023 Indonesia semakin maju, banyak bermunculan anak milenial. Anak - anak milenial ini terlalu bergantung pada gaya hidup yang kekinian. Hal itu pun termasuk pada para pelajar yang ada di Trenggalek ini. Trenggalek memang kota kecil, tetapi pelajar - pelajarnya tidak kalah bergaya dengan pelajar - pelajar lain di kota besar.

Hal tersebut menjadikan alasan para pelajar di bawah umur yang ada di Trenggalek untuk tidak berangkat ke sekolah menaiki sepeda, melainkan menggunakan motor. Padahal hal itu sangat berbahaya bagi siswa di bawah umur yang mengendarai dan pengendara lainnya. Selain karena belum bisa mendapat sim, mereka juga masih sering ugal - ugalan di jalanan sebagai ajang bergaya.

Polisi lalu lintas sudah sering memberi teguran kepada pelajar yang masih di bawah umur untuk menggunakan kendaraan sesuai dengan umurnya, dan tidak ugal - ugalan ketika sedang mengendarai sepeda motornya. Polisi lalu lintas juga sudah bekerja sama dengan sekolah - sekolah yang ada di Trenggalek, untuk melarang murid - muridnya mengendarai sepeda motor ke sekolah bagi yang masih di bawah umur. Namanya juga pelajar milenial, mau ditegur atau dikenakan sanksi apapun mereka tetap pergi ke sekolah menggunakan motor. Contohnya juga masih banyak siswa SMP yang berangkat ke sekolah menaiki sepeda motor. Terkadang mereka juga tidak memakai helm saat berkendara. Kebut - kebutan di jalan sudah menjadi hal yang wajar bagi mereka. Apalagi pelajar milenial ini sering bangun kesiangan akibat malamnya begadang, hingga pada akhirnya mereka berangkat ke sekolah dengan sangat tergesa - tergesa. Di jalan mereka tidak terlalu memikirkan keselamatan dirinya dan pengendara lain. Yang ada dipikiran mereka hanyalah sampai di sekolah tepat waktu. Hal ini membuat pengendara lain resah, karena mereka juga merasa dibahayakan.

Menangani masalah "Pelajar Milenial" memang susah - susah gampang. Anaknya sendiri yang suka mencoba hal baru dan tidak ingin dilarang atau dicegah saat ingin melakukan sesuatu. Menangani masalah ini membutuhkan kesabaran dan kedekatan kepada siswa. Dengan kesabaran dan kedekatan yang dilandasi tujuan, maka keyakinan untuk mengembalikan kebiasaan berangkat sekolah yang umum bagi pelajar di bawah umur akan kembali terlahirkan.